Akibat Tradisi, Mandi Telanjang Bersama di Umbul Desa. Part 2

Posted by kontol ceria on Tuesday, November 27, 2012

Aku mengajar mulai pukul 7.00 pagi. Bahasa Indonesia adalah pelajaran yang aku ampu. Tidak banyak memang murid di kelas 6. Hanya 11 anak saja.

Aku pun sudah mulai bergaul dengan guru-guru. Ada Pak Darto yang gemuk dan berkumis lebat. Atau Pak Marjo, guru matematika berambut jamur yang begitu misterius.

Pak Darto cukup ekstrovert. Terbuka, blak-blakan. Pernah suatu hari, kami para guru rapat evaluasi dalam ruang kepala sekolah. Sambil menunggu Bu Irda masuk, Pak Darto, yang duduk tepat di sampingku, mulai usil.

"Gimana....",

sikunya menyenggolku ketika aku sedang menjumput lumpia rebung dari kotak makanan yang disajikan. Hampir saja lumpia itu terpental.

"Bu Irda...manteb to?"

Belum sempat aku menjawab, Pak Darto sudah terkekeh. Perutnya yang tambun bergetar hebat, mirip ikan buntal yang terancam oleh musuh-musuhnya.

Aku tahu maksud Pak Darto. Ia pasti sedang menggodaku. Tepatnya, ingin meminta pendapat bagaimana susu Bu Irda menurut penilaianku.

Pak Darto memang agak genit dibanding yang lain. Istrinya gendut, anaknya sudah empat. Katanya, istrinya cerewet dan suka berkacak pinggang. Makanya, menurut cerita-cerita yang beredar di kalangan para guru, Pak Darto lebih sering mengungsi ke Umbul. Pamitnya rapat mendadak di rumah Pak RT, tapi ia lebih suka kerayapan ke Umbul, menonton atraksi payudara.

Ah, Darto-Darto...kamu pasti sudah menikmati ranumnya buah dada Bu Irda...

Kubiarkan saja ia terus menggodaku. Tawanya yang cekikikan masih menghiasi ruangan.

Beberapa guru berusaha menegur Pak Darto...Husss, kata mereka.
Orangnya memang sulit diduga, banyak tingkah dan alasan. Makanya, aku hanya terus berulang-ulang menjawab "Ya-Ya-Ya", kalau ia sedang menerocos. Maksudku, supaya ia puas dan segera menghentikan cocotannya itu.

-- DI RUANG KELAS --

Ketika mengajar, murid-murid sepertinya menaruh hormat padaku. Siang itu, di ruang kelas, aku duduk siaga seperti seekor elang yang sedang mengintai mangsanya.

"Sinta, maju", tunjukku pada perempuan berambut kucir ganda.

Yang aku tunjuk diam saja. Malah tampak celingukan.

"Santi kali, Pak...",

seorang murid yang duduk di tengah mengingatkanku."O iya Santi...", jawabku mengoreksi. Aku selalu lupa nama gadis ini. Padahal ia cukup cemerlang dan cantik. Wajahnya memang tidak mulus karena beberapa jerawat sudah menjajah bagian kening dan pipinya yang cukup berisi.

Ia bermata sipit, beralis tebal, dan berbibir sensual. Pipinya tembel. Anak ini selalu merapikan rambutnya dengan gaya kucir ganda seperti itu. Jika diurai, rambutnya hanya sebatas pundak.

"Buat kata berakhiran 'wan'", perintahku.

Sinta beringsut maju, memungut pelan kapur tulis yang aku sodorkan dan mulai menulis di papan tulis.

Sembari memperhatikan materi di dalam buku, aku mendengar anak-anak tertawa cekikikan.

"Ada apa sih", pikirku.

Aku membaca apa yang ditulis oleh Santi....

"P-E-R-A-W-A-N"

"Kurang ajar nih...", gue dikerjain, geramku dalam hati.

Tawa pun meledak di seluruh kelas. Rio, si rambut kribo, tergelak seperti orang kesurupan. Ia membanting-bantingkan tubuhnya ke kanan-kiri, sambil memegang perut, membuatku tampak lebih salah tingkah siang itu.

Sssttt...aku mengacungkan jari dan dengan satu komando, seluruh kelas kembali tenang meskipun masih terdengar cekikikan-cekikikan yang sayup.

Dengan senyum tersipu, Santi mengembalikan kapur itu kepadaku.

Sebenarnya, Santi itu pintar. Cuma pendiam dan suka usil. Berbeda dengan gadis yang duduk tepat di sebelah kanannya, Iyuth, yang sama-sama jahil tapi bercandanya tidak pernah cerdas.

Badan Iyuth lebih padat berisi. Dadanya sudah mulai tumbuh. Aku sering meliriknya sewaktu pelajaran olah raga. Betisnya tebal dan suka memakai sepatu semi-bot macam Dr. Martin jaman dulu. Ia tampak pede tapi kesannya kurang sopan.

Pernah suatu hari ia menodongku, "Pak beliin pulsa dong", wajahnya tak mau lepas dari ponselnya.

Karena niatnya usil, maka kujawab dengan tak kalah usilnya juga..."okey, tapi kasih dulu nomor ponselmu..."

"Nggak jadi!", jawabnya ketus.

Ia melengos dan pergi membelakangiku. Rambutnya yang agak bergelombang, ditata dengan jambul kecil di depannya, terhambur ke arahku. Aku pun mengacuhkannya tanpa beban. Anak jahil kok dilayani, batinku.

Ada satu lagi yang namanya aku hafal. Deva. Duduk di belakang Santi. Wajahnya ayu tapi melas. Gara-gara wajahnya yang mellow itu, orang sekaliber Pak Marjo pun sering dibuat mengalah. Padahal, dengan raut muka seperti Angry Bird, Pak Marjo cukup disegani.

Ibaratnya, Pak Marjo datang, dunia tenang!

Pernah suatu ketika, Pak Marjo menghukum Deva yang langsing itu untuk berdiri menghadap tiang bendera. Tuduhannya, terbukti secara sah menyontek! Tapi dengan mudahnya ia membujuk Pak Darto agar menyelamatkannya. Modus operandinya, ia pura-pura sakit dan minta diantar pulang. Pak Marjo, yang merasa berhak menghakimi, blingsatan karena tak menemukan tawanannya di lapangan sekolah.

Esok paginya, Pak Marjo tidak lagi mengungkit-ungkit hukumannya kemarin. Mungkin karena Deva berhasil menunjukkan wajah memelasnya sehingga Pak Marjo tidak tega untuk meneruskan perkaranya.

Sepertinya mereka bertiga satu gank. Kompak. Kalau jajan, suka makan dengan tema yang sama. Tempura 2 tusuk. Minumannya juga serempak.

Hmmm...apakah mereka pakai daleman yang warnanya sama?

Aku menduga-duga dengan pikiran nakal.


-- PRAMUKA YANG MENDEBARKAN --

Aku melirik sekilas ke arah arloji.

Pukul 3:00.

Aku duduk bersila dan menata baju yang telah selesai aku seterika. Saatnya mengumpulkannya ke dalam lemari baju tua yang ada di hadapanku. Aku beranjak naik diiringi suara gemerisik dari kertas koran yang dijadikan alas duduk. Tempat itu memang berubin namun bukan keramik.

Apa-apa harus kukerjakan sendiri karena jauh dari orang tua.Sayup-sayup, lagu Linkin Park mengusir kesunyianku di dalam rumah.

Sambil menata-nata baju, secara tak sengaja aku melihat dari pantulan cermin yang tergantung di kamar tidurku. Bayangan dua anak perempuan sedang mengintip ke dalam rumah lewat jendela ruang tamu. Sebenarnya ada tiga mahluk. Tapi yang terakhir hanya terlihat topinya saja yang menyembul dari samping. Mereka tampak gaduh.

Aku pun buru-buru mengemasi sisa-sisa baju yang belum selesai ditumpuk ke dalam lemari. Aku jejalkan baju-baju itu begitu saja dan menutup lemari rapat-rapat.

Sewaktu membalikkan badanku, mahluk-mahluk itu, yang ternyata kusadari adalah gadis-gadis yang tak asing di kelasku, buru-buru bubar sambil heboh sendiri.

"Huss..ngapain kalian ke sini", tanyaku dengan sorot tajam kepada mereka.

Setelah kubuka pintu, terlihat Anak usil and the gank itu datang ke rumah sore hari lengkap dengan memakai baju dan atribut Pramuka. Masing-masing dari mereka menggenggam tongkat bambu.

"Jelajah desa, Pak", kata Iyuth sambil membetulkan posisi topi bundarnya. Santi pura-pura tak menyimak dengan sibuk menengok kanan-kiri. Deva memilih untuk menatapku sambil mengibas-ibaskan tangannya memancing hembusan angin.

"Terus...?", kejarku penuh selidik.

"...terus, kita kehilangan jejak deh Pak...", jawab Iyuth kikuk yang disambut dengan senggolan siku Deva. Mungkin Deva merasa tidak enak denganku karena Iyuth terlalu keliatan bohongnya.

Di antara jengkel dan kesal, aku mempersilakan mereka masuk. Iyuth lebih dulu, dibuntuti Santi dan Deva.

AKu mendahului mereka pergi ke dapur dan sesampainya di sana, aku setengah berteriak.

"Minum apa nih...",
"Terserah deh Pak, asal bukan air putih", sahut Santi asal jawab dari ruang tamu.

Aku memutuskan untuk menyuguhi mereka sari jeruk. Segar pasti siang-siang begini. Ketiga gelas itu aku tata rapi di atas nampan dan kubawa masuk ke ruang tamu.

Glekk...Belum sempat kusodorkan gelas-gelas itu ke tengah meja, aku menelan ludah.

Iyuth sudah mengurai dasi Pramukanya dan melepas tiga buah kancing dari atas. Ia tampak sibuk mengibas-ibaskan tangannya, menggiring angin ke arah lehernya. Dagunya ia naikkan ke atas, ke bawah. Kadang kepalanya ia miringkan. Lehernya bersih dan putih.

Mungkin aku harus berterima kasih kepada matahari sore ini karena, ketika aku membungkuk untuk menaruh gelas-gelas itu, aku mengintip cepat singlet putih dari balik baju pramuka Iyuth.

Belahan dadanya mulai tumbuh, tapi belum besar.

Mereka menyerbu minuman yang aku sodorkan. Deva begitu rakus. Mungkin ia sangat kehausan, sampai-sampai sari jeruk itu meleleh di antara bibirnya dan turun meluncur mengikuti dagu, leher, dan masuk ke dalam balik bajunya.

Aku merasa kalau Deva sangat seksi.

Santi...bagaimana dengan Santi. Ia masih berpakaian rapi. Rambutnya yang dikucir dua dan wajahnya yang oriental memang menggemaskanku. Tapi, dalam hal berpakaian, ia cukup ketat menjaga penampilannya.

Aha!

....Tiba-tiba, bagaikan tersambar palu godam tepat di ubun-ubunku, aku tersadar. Mengapa aku harus curi-curi pandang kalau aku bisa lihat semuanya itu...di Umbul!

Dasar!! Betapa bodohnya aku!!!

Sekilas, aku berbinar. Tapi buru-buru kupadamkan rana muka girangku. Kembalilah aku ke raut muka ja'im.

Aku harus mainkan strategi agar bisa membujuk mereka tanpa terkesan main tembak. Hmmm...aku punya strategi untuk menggiring mereka ke Umbul. Otakku berputar.

"Udah gih...minumannya dihabisin terus kalian balik ke sekolah. Kalo nggak, nanti bapak laporin ke Pak Joko."

"Ehh...jangan pak", mereka sontak menolak kompak. Tangannya mengibas-ibas tepat di depan ku.

"Nanti kita kena hukuman deh Pak", jawab Deva memelas. Gelasnya yang sudah kosong cuma diputar-putar di pangkuannya. Wajahnya sayu membuatku luruh. Tapi strategi harus berlanjut.

"Tuh kan...HP Bapak berbunyi. Entar nih, SMS dari siapa ya...?". Tanganku merogoh ponsel yang kuselipkan di celana.

"Pak Joko...", kataku dengan suara dibuat-buat, "katanya: pak Alfred, kalo ketemu Iyuth, Santi, dan Deva, harap suruh mereka pulang. Hukuman sudah siap menanti."

Mereka bertiga membelalakkan matanya..."Ha..."
"Ampun deh pak, bilang kalo kita tersesat..."

Strategiku berhasil. Mereka panik dan mulai memohon. Aku memasukkan lagi ponsel yang sengaja kubuat berdering itu. Tak ada SMS sebenarnya. Yang ada hanya bualanku saja.

"Gini aja...gimana kalo kita sembunyi di Umbul. Takutnya, Pak Joko menyusul kemari", tawarku.

Iyuth langsung beranjak dari kursinya bak ada aliran listrik yang menghujam pantatnya.

"Ayo-ayo-ayo",burunya kepada Santi dan Deva.

"...tunggu sebentar. sekalian bapak ambil baju mandi. Mau mandi sekalian...", jawabku.

Mereka menghabiskan minumannya dan menunggu di teras. Sepertinya tak sabaran, takut jika Pak Joko terlanjur menyusul mereka.


---- BIDADARI SESUNGGUHNYA ----

AKu menapaki rute menuju Umbul bersama ketiga bocah usil itu, persis menyusuri jalan setapak yang kulalui bersama Bu Irda. Iyuth berbisik-bisik tak jelas. Mulutnya dihadang oleh tangannya sehingga aku tak bisa membaca gerakan bibirnya. Sepertinya, mereka sedang main rahasia-rahasiaan.

Sementara Santi berjalan sok cuek sambil menikmati pemandangan sekitar. Sesekali, ia mengibaskan tangannya, berusaha menyobek daun-daun yang ia lalui.

"Loh...pak", suara Iyuth menghentikan langkahku.
"Kok kita terus pak...? Bukannya kalo ke Umbul harus belok ke kanan?"

Aku bingung. Seingatku, Bu Irda menggiringku ke arah atas. Kita semua berhenti di pertigaan.

Kiri, menuju ke atas, tempat yang kuyakini benar. Tapi Iyuth sepertinya protes. Menurutnya, kita harus ke kanan, menuruni tebing.

"Kamu yakin Yuth...?", tanyaku.
"Yakin pak...", jawabnya penuh keyakinan.

Sejenak berdiam diri. Aku pun mengiyakan rute yang diyakini benar oleh Iyuth. Lalu, kami menuruni jalan setapak.

Daerah ini benar-benar asing dan lebih terjal. Kami saling menolong agar tidak terpeleset jatuh. Sesekali, aku bisa mencuri-curi pandang paha mereka bertiga. Paha Iyuth paling besar karena kakinya memang padat. Tapi yang paling langsat adalah paha Santi.

Sedangkan yang paling sensual mungkin hanya Deva karena permukaan kulitnya penuh dengan rambut-rambut halus. Betisnya kuamati saat menuruni bebatuan tadi. Ada banyak bulu-bulu lembut berwarna hitam di situ.

Benar saja, lima belas menit kemudian, kami mendengar suara gemericik air. Kami bersemangat pergi agar lebih cepat sampai di tujuan. Setelah mendaki sedikit, kami melihat ada umbul.

Lebih jernih namun berdiameter lebih kecil. Tepi umbul itu lebih berbatu, alami, dibanding Umbul yang aku pakai mandi bersama Bu Irda.

Sepertinya, tempat ini lebih privat.

"Betul kan pak...ini tempatnya...", kata Iyuth penuh kemenangan.
"Lebih enak kayaknya nih...lebih adem", kata Deva.

Mereka saling bercanda satu dengan lainnya. Iyuth menjorokkan tubuh Santi tapi buru-buru ia pegangi kembali. Santi yang terkejut cuma bisa menyumpah-nyumpah. Sekali dua kali, mereka juga saling menjerit sambil mencipratkan air pakai ujung sepatu. Sepertinya, mereka bertiga mulai menggila!

"Bapak mau puter dulu ke atas...lihat-lihat pemandangan. Kalian tunggu aja di sini sambil mancing...", gurauku. Tapi aku serius. Aku harus mengamati sekeliling untuk memastikan tak ada orang yang lewat ke tempat itu. Bisa berabe nanti kalau mereka benar-benar menuruti tradisi desa ini...

Umbul itu terpencil dan seperti terkucil dari alam. Jika berjalan ke arah atas, maka hanya didapati jurang. Di bawah jurang terdapat sawah yang ditata secara terasering, berundak-undak. Air dari umbul yang terbuang, akan jatuh ke bawah dan mengairi sawah itu.

Aku memutar kakiku untuk kembali ke umbul. Sepertinya steril!

"Pak...", seru Iyuth setengah berteriak, "kita mau mandi...Bapak jagain baju kita ya..."
Aku mengangguk kencang.

Cewek memang suka mandi. Aku tertawa tertahan.

"Kalian tahu tradisi mandi di umbul kan?", tanyaku mengingatkan.

Aku berharap, mereka menganggukkan kepala yang itu artinya, mereka harus melepas atasan saat mandi.

"Tahu dong Pak...tuh, si Santi sudah nggak sabaran", goda Iyuth.
Yang digoda cuma cemberut kecut.

"Kita semua nggak mau didatengi penyu putih kok pak...mending malu dikit daripada satu desa repot semua", kata Deva menerangkan.

Okelah kalau begitu.

Matahari mulai condong ke barat, memancarkan sinar yang tampak berkilau-kilau seperti emas di atas umbul. Bintang-bintang di langit bagaikan jatuh di atas air.

Sepi di sekitar umbul. Bambu-bambu saling bergesekan, berderit-derit memainkan nada teratur, menimbulkan kesan asri sekaligus mistis.

Aku mencari batu yang besar untuk meletakkan pantatku sambil mengambil sudut pandang ke arah umbul yang paling ideal. Ah, sedikit ke timur ada batu yang kumaksud. Aku duduk di situ, menunggu apa yang akan tersaji di hadapanku.

Santi beringsut maju, Iyuth di tengah, dan Deva ada di urutan belakang dari sudut pandangku.

Santi melongok sejenak ke dalam umbul lalu menarik badannya kembali. Jari-jari lentiknya mengurai ikatan dasi pramukanya, dan membongkarnya sehingga terlepas dari lehernya yang jenjang. Akhirnya, dicopotnya dasi yang mengikat lehernya itu.

Di belakang Santi, Iyuth sedang memelorotkan rok coklat pramukanya ke bawah. Namun dasar anak usil, ia masih mengenakan sepatunya saat celana dalam putihnya terlihat jelas. Lucu dan menggemaskan. Betisnya benar-benar padat dan agak gemuk. Terlebih-lebih pahanya. Cukup besar. Tapi putih.

"Va...tolong gih", pinta Santi, sambil berusaha mengotak-atik kaitan roknya.

Deva melangkah maju. Tangannya membantu menanggalkan kaitan rok yang menutupi area pribadi Sinta. Deva masih berpakaian utuh. Begitu kaitan rok itu saling tak terkait lagi, diturunkannyalah ritsliting rok itu.

"Butuh pelumas kali San...agak macet rits-nya", kata Deva setelah menolong Santi membuka ritsliting rok itu.

Ia mundur lagi beberapa langkah, membiarkan Santi menanggalkan roknya seorang diri. Kuamati paha jenjang Santi dari atas ke bawah. Seperti tak ada cacat. Putih. Dan bahkan lututnya pun memiliki warna senada dengan bagian kakinya yang lain.

Santi hanya melepas beberapa benik baju coklatnya dari bawah ke atas. Begitu tiga buah benik sudah dilepas, ia langsung menarik baju itu ke atas seperti sedang melepas kaos olah raga. Singlet putih pun menggantikan baju coklat yang baru saja ia tanggalkan. Dadanya belum terlihat jelas, tapi benih-benih menuju ke arah payudara montok, sudah mulai
terlihat.

Aku mulai tegang. Penisku mengeras.

"Pak...kutaruh dimana bajunya...?", tanya Santi yang hanya memakai singlet dan celana dalam putih. Ia mengayun-ayunkan bajunya, hendak melepaskannya di tanah.

"Taruh di situ aja San...", jawabku, "Nanti bapak ambil..."

Setelah selesai melepas baju pramukanya, Iyuth jongkok sedikit, mengurai tali sepatu bot-nya, dan mencopotnya satu demi satu. Kaos kaki putihnya ia tarik ke luar, menggulungnya, dan menjejalkannya ke dalam sepatu itu.

"Uhhh...bau apa nih??", godaku.
"Pasti bau kaos kaki Iyuth tuh pak...", balas Deva, "kan seminggu sekali kaos kakinya baru dicuci..."

Sinta tertawa lebar. Giginya yang rapi jelas terlihat.

"Ye...orang ini kaos baru...", jawab Iyuth tak mau kalah.

Kuku kaki Iyuth terlihat mengkilat dan terawat. Lalu ia menegakkan punggungnya, dan meminta Santi menarik pakaian dalamnya ke atas.

Santi menuruti.

"Hati-hati San...nanti anting-antingku malah copot semua nih..."
Perlahan-lahan, Santi menarik baju melewati kedua tangan Iyuth yang sudah menengadah ke atas.

Gila! Buah dada Iyuth sudah mulai tumbuh menyembul keluar. Putingnya benar-benar kecil dan lingkaran coklat yang mengitari puting itu masih berwarna pudar, seolah-olah menyatu dengan kulit tubuhnya yang mulus. Karena masih kecil, payudara Iyuth tampak lancip.

Beberapa detik lamanya, Iyuth memeriksa daun telinganya. Pasti ia ingin memastikan kalau anting-antingnya tidak lepas, batinku.

Iyuth membelakangiku dan melakukan hal yang sama pada Santi, menarik singlet putihnya ke atas. Buah dada Santi lebih kecil. Belum tumbuh. Santi memang lebih kurus, tapi langsing.

Manisnya wajah Santi mampu menutupi kecilnya buah dada mini yang menggantung di dadanya.

Ternyata dugaanku benar. Untuk urusan pakaian dalam pun, mereka bersekutu.

Terus terang, aku suka dengan wajah imut seperti Santi walaupun tubuhnya masih belum ada apa-apanya dibanding Iyuth.

Santi bergidik sedikit..."Brrr...dingin...", serunya. Matanya menyipit, membuat wajahnya semakin imut.

Dari arah belakang, Deva yang masih mengenakan singlet dan celana dalam putih beringsut maju dan menjepitkan jarinya ke sela-sela celana dalam Santi. Dengan sedikit tekanan ke arah bawah, ia pun mempelorotkannya celana dalam itu. Santi tampak kikuk namun tak berusaha mencegah.

Mataku membelalak dan penisku keras seperti tongkat...Apa yang telah Deva lakukan terhadap Santi...ia menelanjangi gadis itu!!!

Aku menahan kelopak mataku lama, tak berkedip, walaupun cukup pedih menahan kering dari air mata. Santi teramat cantik tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya!

Aku tak sabar menunggu Iyuth dan Deva melakukan hal yang sama...

Santi melipat tangannya ke arah dada dan membiarkan kemaluannya tak tertutupi. Sesekali ia melirikku sambil menggigit kecil ujung lidahnya.

Santi memiliki bulu kemaluan yang ringkas, seperti semak-semak yang melebar ke bagian atas. Rambutnya tidak sampai melewati pangkal pahanya. Dengan tubuh kurus seperti itu, daerah kemaluannya menjadi tampak sempurna.

"San...besok makan yang banyak gih, biar montok mirip Iyuth", kataku setengah teriak.

Suaraku jelas gemetar. Aku benar-benar tak biasa melihat gadis telanjang dengan penuh percaya diri seperti anak-anak itu.

"Jadi aku gendut ya pak...", sindir Iyuth.
"Bukan gitu Yuth...kamu seksi kok", hiburku.

Iyuth, masih membelakangiku, akhirnya menurunkan celana dalamnya juga. Belahan pantatnya langsung kulihat sempurna. Pantatnya agak gemuk namun sesuai dengan postur tubuhnya. Ia melipat-lipat pakaiannya dan membungkuk ke bawah sekali dua kali.

Oh noooo...Iyuth yang usil itu ternyata montok menggemaskan.

Tinggal Deva yang belum telanjang. Dalam hitungan detik, ia menurunkan celana dalamnya hingga sebatas lutut dan mundur beberapa langkah, lalu jongkok.

Cuuurrr...air pipis kuning keemasan mengalir dari selangkangannya.

"Wuiihhh...air terjun baru nih...", kata Santi sambil tersenyum geli.
"Sini, aku mandiin San...banyak nutrisi nih", ujar Deva. Air kencing yang keluar dari belahan kemaluannya cukup banyak. Sepertinya, Deva amat menikmati momen ini.

Beberapa muncratan kecil mengakhiri pemandangan langka ini.

Setelah itu, Deva berdiri kembali, melorotkan celana dalam yang sudah turun setengah itu dan menarik kaosnya ke atas. Telanjang!
Sambil berjalan ke arah teman-temannya yang sudah berbugil ria, ia mengumpulkan baju-baju pramuka itu menjadi satu.

Santi dan Iyuth dengan ceria khas anak-anak, mencemplungkan dirinya ke dalam Umbul. berbeda dengan Santi yang tetap melipat tangannya menutupi dadanya, Iyuth tampak lebih riang. Ia mengangkat tangannya seperti hendak melompat sambil melangkah-langkah kecil ke dalam Umbul.

"Hati-hati Yuth...", pesanku.

Pandanganku tak jauh dari daerah kemaluannya yang plontos namun berbintik-bintik. Tunas-tunas rambut sudah mulai terlihat di daerah selangkangan Iyuth. Belahan vaginanya tak bisa disembunyikan sama sekali karena tak ada rambut yang tumbuh.

Sesekali, mereka saling berpegangan supaya tidak terpeleset. Sesampainya di tengah umbul, dua anak itu saling berhadapan, dan memerciki air sambil tertawa-tawa riang. Badannya basah oleh bulir-bulir air yang menciprat liar.

Apa yang mereka pikirkan? Apa mereka tidak malu, atau takut?
Mereka benar-benar seperti anak-anak. Telanjang dan bahagia.

Terdengar jeritan-jeritan kecil dari mulut keduanya. Mereka benar-benar seperti berperang di tengah cipratan air. Santi, dengan rambut yang masih terkucir ganda, seperti tak mau kalah. Ia menjebak air di dalam tangannya yang mengatup dan menyemburkannya cepat-cepat ke wajah Iyuth.

Rambut Iyuth yang sepundak terkebas-kebas mengikuti goyangan kepalanya.

Beberapa kali, aku menyentuh kain celanaku, tepat di posisi kepala penis berada, dan menggosokkannya pelan-pelan ke arah testis. Enak rasanya. Tapi kulakukan hanya sekali-dua kali. Aku tak mau tampak cabul di depan anak-anak itu walaupun aliran darahku begitu deras tak terbendung.

Deva sudah siap-siap menyusul masuk ke dalam air. Sebelum menenggelamkan diri, ia memutar-mutar sendi lengannya beberapa kali. Mungkin sendinya agak keseleo.

"Kenapa Va...", tanyaku. AKu hendak beranjak berdiri, membantu Deva mengatasi persendiannya. Mungkin, pijatan kecil bisa melegakan otot-ototnya.

Tapi Deva menjawab singkat, "Ohh...cuma pegel dikit pak...Nggak pa-pa kok..."

Payudaranya yang kecil bergoyang-goyang mengikuti gerakan tangannya. Putingnya lebih gelap dibanding dua anak lainnya. Kecil namun agak menggantung.

Kakinya penuh bulu-bulu lembut yang menjalar ke atas.

Dugaanku tepat. Gadis yang dipenuhi bulu-bulu tipis di sekujur tubuhnya, pasti memiliki rambut kemaluan yang lebat. Betul. Rambut kemaluan Deva yang paling lebat di antara mereka bertiga. Tak teratur, semrawut, tapi sungguh aku nikmati. Rambut paling bawah agak panjang, menjulur ke bawah seperti sulur-sulur pohon beringin, menutupi belahan vaginanya.

Di tepi umbul, Deva berjongkok dan setelah menceburkan kedua kakinya, ia langsung merebahkan badannya ke dalam air. Ia menenggelamkan diri. Hanya pantatnya saja yang menyembul keluar.Kepalanya keluar masuk air berkal-kali sambil menyemburkan air ke permukaan. Berulang-ulang, Deva mendayungkan tangannya ke belakang, dan tubuh telanjangnya maju ke tengah umbul.

"Stop-stop-stop..."

Setelah puas guyur-guyuran air, Iyuth melepaskan diri dari Santi.
Tubuhnya sudah benar-benar basah. Licin dan mengkilap. Bulir-bulir air meluncur liar di tubuhnya. Ia membalik badan, berjalan perlahan ke arah pancuran. Tangannya agak dibentangkan untuk menjaga keseimbangan langkahnya. Betul-betul perfect melihat tubuh telanjang seperti itu. Sesampainya di pancuran, ia menengadahkan wajahnya ke atas dan membiarkan kepalanya dijatuhi air terjun.

Santi menyusul dari belakang. Ia berhenti di belakang Iyuth dan kedua tangannya memijat-mijat pundak Iyuth. Iyuth mendesah keenakan.

"Mantab San...aduh. Jangan keras-keras dong!"
Santi tertawa dan mengendurkan pijatannya.

Ketiga gadis itu membelakangiku, menampakkan tiga variasi pantat yang berbeda. Iyuth memiliki pantat yang bulat dan gemuk. Santi, walaupun kurus, punya pantat yang montok dan kencang. Deva, agak tepos tapi tetap seksi. Mereka semua berkulit putih.

Great..!!!

Nafasku tersengal-sengal karena jantungku berdetak sangat cepat.
Kenyataan yang kulihat di depan mata kepalaku sendiri justru sangat jauh, membumbung dari harapanku sejak awal. Iyuth, Santi, Deva...bapak cuma mau melihat kalian mandi dengan payudara-payudara kecil kalian. Tapi justru kalian, menunjukkan semuanya!!! Ahhh, sekarang tak ada lagi yang bisa kalian sembunyikan...!!! pujiku dalam hati. Aku kagum kepada mereka.

Belum selesai aku berpikir, tiba-tiba, mereka beringsut ke tengah kolam. Sesekali, mereka melirik ke arahku. Di tengah umbul, mereka membelakangiku dan membentuk formasi lingkaran.

Punggungnya dibengkokkan ke depan dan kepala mereka seolah-olah saling menempel. Pantat mereka terdorong ke belakang, memancingku ingin meremas pantat mereka satu demi satu.

Mereka sepertinya tengah berbisik. Gawat, sepertinya ada rencana jahat...pikirku.

Selesai berbisik-bisik, mereka pun saling menepukkan tangan. Tosss...

Deva maju mendekatiku. Tubuh bugilnya menghadapku secara frontal. Rambut-rambut kemaluannya layu terkena air.

Sepertinya, ia dipilih oleh kedua temannya untuk menjadi juru bicara.

"Pak...", kata Deva dengan wajahnya yang mellow...
"kata Iyuth dan Santi..., mereka ingin lihat punya..." belum selesai Deva berbicara, Iyuth langsung menghambur maju, mendekap mulut Deva. Sebentar mereka bergumul, membuat payudara keduanya memantul-mantul. Santi tak mau kalah, ia ikut memegangi tangan Deva.

"Nggak pak...bukan itu yang kami bicarakan tadi", kata Iyuth menyela.
"Iya pak...", kata Santi membenarkan sambil menjitak kepala Deva.
"Maksud kami...nggak seru juga nih kalo bapak nggak ikut mandi...masak cuma jadi penonton."

Wah, mereka sudah berani protes rupanya.

"Terus mau kalian apa...", gugatku.

"Nyebur pak...mandi bareng kami".

Gawat!!!

"Tapi bapak nggak bawa baju ganti nih...", jawabku mengelak. Padahal, aku sudah ingin sekali terjun ke umbul, menyentuh kulit mereka yang lembut dan bersih satu demi satu.

"Copot dong pak...ngapain pake baju segala. Ingat tradisi di sini lho", kata Deva mengingatkanku.

Oke deh. Aku berdiri dan menyambut ajakan mereka.
Kaos aku lepas dan kakiku kuceburkan ke kolam.

"Loh pak...ponselnya kok ikut diajak nyebur? Nanti rusak lho...", Iyuth menunjuk ke arah celanaku.

Deva menahan senyum. Tapi Santi penasaran dengan objek yang ditunjuk Iyuth itu.

Gawat dua kali!!!

Ini bukan ponsel....saking antusiasnya aku pada mereka bertiga, aku sampai lupa kalo penisku sudah mengeras seperti batu, dan sekarang tampak menonjol di balik celanaku!!!

Duh, malunya...

"Itu bukan ponsel Yuth...bego banget sih kamu", bantah Deva.
"Terus apa donk...apaan itu pak. Punya bapak ya....?", Iyuth bertanya serius.

"Ya udah deh...bapak jelasin", kataku kepada mereka. Santi tetap menatap celanaku dengan sorot mata yang tajam.
Iyuth, karena kedinginan, melipat tangannya ke depan tubuhnya dan berjongkok. Deva membasuh tangannya sambil sesekali melihatku.

"Ini anunya bapak...burung...kalian nggak punya. Cuma laki-laki yang punya. Tau kan yang bapak maksud?",

"Ooo...", jawab Iyuth dan Santi serempak.

"Kok bisa besar sih pak", tanya Iyuth setelah terdiam sesaat.
"Tuh pak...Iyuth sudah nggak sabaran deh...", sindir Deva.

Aku harus menjawab apa. Terdiam sejenak, dan melangkah maju ke depan.

"Aslinya nggak sebesar ini terus-terusan. Tapi berhubung liat kalian telanjang, jadinya seperti ini deh...tegang dan keras...", jelasku.

"Jadi bapak senang ya liat kami bertiga telanjang...", kata Santi cekikikan.

Tangannya diturunkan ke pinggulnya sambil setengah berkacak pinggang. Ia masih cekikikan sendiri sambil pura-pura sok cuek.

Ya benar lah San...bodoh banget sih kamu. Batinku dalam hati.

Hmmm, apa yang mesti kulakukan. Apa aku nekat saja ya mencopot celanaku. Penisku sakit karena tertahan kain celana. Jadi kuputuskan untuk mengakhiri saja penderitaanku itu.

"Oke deh...biar solider, bapak mau nyemplung seperti kalian. Bugil. Tapi kalian jangan kabur ya..."

Aku bersiap-siap menurunkan celanaku.

"Awas kalo sampe kabur. Nanti baju kalian aku lempar ke jurang biar kalian pada pulang telanjang", ancamku.

Iyuth tersenyum sambil mengacungkan jempol. Santi memalingkan wajahnya dalam-dalam ke arahku. Deva mengangguk pelan, tanda tampak setuju.

Langsung aku luncurkan celana pendekku itu. Dalam sekejap, sama seperti anak-anak itu, aku sudah bertelanjang bulat. Sekarang, penisku mengacung tinggi.

Aku berdiri tegap, memamerkan semuanya kepada gadis-gadis itu tanpa kecuali. Aku cukup percaya diri dengan badan berotot hasil latihan kerasku selama ini. Oleh karena itu, tak ada rencana untuk menutupi semilimeter bagian tubuhku sekalipun menggunakan tangan.

Kubiarkan penisku menantang gadis-gadis itu.

"Ihhh...pak. Kok sama seperti punya Deva sih...rimbun", kata Santi.

Mereka bertiga tak mau melepaskan pandangan ke arah penisku dengan rana serba ingin tahu.

Aku berjalan mendekati mereka dan menceburkan diri.

"Iya San. Laki-laki juga punya banyak rambut kok...nanti kamu juga bakal banyak rambutnya

kalau sudah dewasa. Kamu juga Yuth...jangan khawatir. Bakal lebat tuh...", balasku.

Iyuth tersenyum kecut dan membiarkanku mencipratkan air-air ke wajahnya.

Aku bersandar di batu Umbul. Ku suruh mereka mendekat. Mereka melangkah malu-malu.

Setelah Santi berada dalam jangkauan tanganku, kulingkarkan tangan ke pinggulnya dan jari-jariku berhenti tepat di pantatnya. Kucubit di dalam belahan pantatnya yang montok dan kenyal.

Santi agak kaget tapi tidak protes. Ia tersenyum kecil. Ingin kucium pipinya karena wajahnya sudah begitu dekat. Tapi belum juga aku mendorong bibirku...Deva sudah menginterupsi.

"Pak...katanya kalo dipegang enak ya..."
"Iya Va...penis bapak sensitif sekali. Belum dipegang aja sudah enak, apalagi kalau disentuh...."

"Kayak gini ya pak...", jari telunjuk Iyuth mendarat tepat di lubang kencingku, dan dengan gerakan halus ia menggesekkan jarinya itu ke arah bawah, menuju ke testis.

Aku sedikit menggelinjang. Jepitan jariku semakin erat "menggigit" pantat Santi. Kaget, Santi melihatku sejenak dan langsung memalingkan wajahnya kembali. Ia melihat penisku yang sudah cenat-cenut ke atas dan ke bawah.

"Ayo Yuth, lagi...", kata Deva singkat memberi semangat,

"sepertinya Pak Alfred nggak protes tuh burungnya kamu gituin".

Ayo... lagi Yuth.... rintihku dalam hati.

Deva mengguyurkan air dingin berkali-kali ke atas penis yang tegak. Dan tiga jari Iyuth menggenggam bagian atas penisku dan jempolnya menggosok bagian bawah seperti tadi.

Berkali-kali!!

Mantab! Aku mulai menggelinjang-gelinjang. Gara-gara getaran tubuhku, Santi sampai harus melingkarkan tangannya dan memegang pundakku erat-erat untuk menjaga kestabilan tubuhnya.

Jarak bibirku dan bibirnya sudah sangat dekat. Kuberanikan untuk mencium dan mengulum bibirnya. Cup! Santi tidak protes. Ia diam saja, seperti turut menikmati.

Tanganku yang satu menganggur tak mendapat pekerjaan. Karena seluruh tubuhku sudah merasa keenakan, kuraba-raba perut Deva yang sudah mendekat, dan dengan mata tertutup, kujelajahi payudaranya. Dengan menggunakan jari-jariku, kumainkan puting Deva. Kujepit lembut-kugosok-ku tekan-tekan.

Deva mendesah-desah kecil dan membalas perbuatanku dengan cara memlintir putingku lembut.

Tiba-tiba aku merasa penisku sangat lembab dan becek namun tetap seperti sedang digosok-gosok. Aku penasaran. Apa yang terjadi?

Kulepaskan cumbuanku dari bibir Santi untuk menengok sejenak apa yang Iyuth lakukan.

Astaga!!!!

Gadis usil itu sudah memasukkan penisku ke mulutnya tanpa minta permisi. Santi, yang ciumannya sudah kulepaskan, ikut-ikutan melirik ke arah penisku dan memelototkan matanya yang sipit sambil menutup mulutnya yang terbuka lebar...

"Haaa...", seru Santi tertahan.

Namun Deva, sambil masih keenakan, tak ingin terpancing. Ia menahan punggung tanganku agar aku tak melepaskan jari-jariku. Ia ingin aku tetap mencubit-cubit putingnya.

Karena sudah tidak merangkul Santi lagi,maka aku putuskan untuk memainkan puting Santi juga. Santi tampak keenakan. Kepalanya maju mendekati dadaku, dan Santi menjilat putingku dengan lembut. Lidahnya kaku namun hangat.


Setelah beberapa saat, Iyuth membebaskan penisku dari mulutnya yang lembut. Ia berdiri pelan. Lalu aku maju dan memeluk Iyuth serta menciumnya erat-erat. Penisku menempel di perutnya. Aku menaik dan menurunkan pantatku pelan-pelan agar penis tergesek ritmis. Enak rasanya.

Kucabut bibirku dari bibir Iyuth yang basah karena sekilas kulihat Santi sudah mau mentas dari Umbul. Ia sudah bersiap-siap naik ke permukaan.

"Mau kemana San...?" tanyaku. Aku berharap Santi tidak ingin menyelesaikan permainan ini sesegera mungkin.

"Pipis bentar Pak...udah kebelet", jawabnya. Ia berlari kecil ke arah pohon pisang dan sambil membelakangiku, ia jongkok. Air kencing mengalir di antara kedua kakinya.

Ah, biarlah nanti Santi pasti kembali lagi.

Aku beralih ke Deva. Kupegang tangannya, dan kutarik ke bawah. Aku berbaring di dalam air sehingga Deva sedikit berlutut. Tanganku yang satu mendorong pantatnya maju. Deva mendekatkan badannya ke arah wajah, mengangkangiku.

"Maju lagi Va...Nah, cukup!", perintahku ketika selangkangannya tepat mendarat di atas bibirku. Kemaluannya merekah dan lubang vaginanya yang berwarna coklat muda terbuka di hadapanku. Tanpa banyak komando, kujilat bagian bibir vagina itu dengan liar. Deva menggelinjang hebat. Kupegangi pinggangnya biar badan Deva tetap stabil menunggangiku.

Deva sangat menikmati jilatanku. Lidahku menari-nari semakin liar, seluruh lubang dan bagian dalam vagina sudah kujilati. Agak asin. Pipiku geli tertusuk-tusuk rambut kemaluannya yang lebat.

Iyuth merayap di sebelah kiriku. Mengamati seksama gerakan lidahku yang liar menjilati memek Deva. Berkali-kali ia mengusapkan rambut yang basah itu ke belakang telinganya.

Kulepas tangan kiriku dari pinggang Deva dan mengarahkan jari telunjukku ke arah mulut Iyuth. Iyuth menanggapi tawaranku itu. Ia mengulum kencang jari yang telah kusodorkan itu.

Lewat sela-sela kaki Deva, aku mengintip Santi sudah menceburkan dirinya lagi ke dalam Umbul.

Kudorong pelan pantatku berkali-kali ke atas permukaan air. Penisku menyembul dan tenggelam, berusaha memancing Santi. Sepertinya Santi memahami isyaratku. Ia jongkok di selangkanganku dan menjebak air menggunakan kedua tangannya yang mengatup. Air pun dikucurkan ke atas penisku.

Lalu, mulutnya mendekat. Sempat berhenti sejenak, ia membuka bibirnya yang mengkilat, dan mengulum penisku. Awalnya, hanya kepala penisku saja yang dikulumnya. Ia memutar-mutar bibirnya dan menggesekkan lidahnya tepat di kepala penis. Setelah puas, ia menelan sampai pangkal penis. Naik-turun kepala Santi menelan penisku. Aku berusaha menaikkan pantatku agar penisku tak tenggelam. Takut hidung Santi kemasukan air.

Aku berusaha untuk merasakan semua sensasi ini satu demi satu.

Deva mendesah-desah hebat. Aku pun sebenarnya ingin mendesah, namun lidahku sibuk memanjakan memek Deva.

Iyuth memegang pergelangan tanganku dan menarik jariku keluar dari mulutnya. Lalu dengan pelan, menuntun tangannya ke arah memeknya. Lantas, ia memintaku menempelkan jari-jarinya ke memeknya yang botak itu.

"Gesek pak...", pintanya lirih.

AKu mainkan jariku ke lubang vaginanya yang lembab. Kogosok-gosok tepinya dan sesekali, aku memasukkan sebagian ruas jariku ke dalam kemaluannya. Aku menjaga agar sodokanku tak terlalu masuk. Takut merusak keperawanan Iyuth.

Iyuth mendesah-desah dan berkali-kali menggigit bibir bawahnya.

"Mantab...belum pernah seenak ini...duh...", Iyuth merintih kecil.

Pengalaman sore itu sungguh luar biasa. Semua gadis sudah tidak ada yang menganggur. Mereka bersatu padu memanjakan gurunya yang ganteng ini...hahaha...tawaku dalam hati.

"Pak-pak please...", desah Deva...

ia mengeraskan cengkeraman tangannya ke pundakku. Agak sakit karena kuku Deva cukup panjang untuk menembus kulitku yang kencang.
Deva semakin menggelinjang. Sepertinya ia mau klimaks, batinku.

Kumainkan lidahku lebih liar. Tidak hanya tepi-tepi vagina saja yang kuhisap-hisap.

Kujulurkan lidahku panjang-panjang ke dalam lubang memeknya yang semakin basah itu. Akibatnya, Deva semakin mendesah dan menjambak rambutku.

Berkali-kali ia memanggilku...

"Pak, pak, enakkkk....uhhhh....ohhh"

Gelinjangannya makin kuat dan seperti mengedan, aku menjerumuskan lidahku dalam-dalam. Deva seperti mengejan dan .... melemas. Nafasnya tersengal-sengal. Lidah sudah kucabut dari memeknya.

Dengan masih mengatur nafasnya yang tak teratur, Deva berdiri dan melangkahiku. Sekarang, Santi bisa kulihat dengan jelas menikmati penisku. Aku ingin memuaskan Santi yang terakhir, karena ia yang paling manis. Jadi, perlakuannya harus yang paling istimewa.

Walaupun kocokan Santi istimewa, tapi aku masih bisa menahannya agar tak puas terlebih dulu.

Giliran Iyuth. Aku pingin memuaskan Iyuth dulu. Dengan menggunakan satu tangan, kugiring Iyuth ke atas wajahku, sama seperti yang kulakukan terhadap Deva yang sekarang sudah duduk di tepi umbul.
Wajahnya tampak lelah tapi sepertinya ia begitu puas.

"Siap-siap ya Yuth...pegangan", kataku sambil memberinya aba-aba.
Iyuth mengangguk kecil.

Kedua tanganku meremas dada Iyuth. Ia sudah menggeliat-geliat walaupun lidahku belum kumainkan. Matanya terpejam, berusaha mengonsentrasikan rasa enaknya dalam pikiran.

Karena tak tega melihat raut muka yang tak bisa menahan rasa enak itu, aku langsung memainkan memeknya yang plontos itu dengan menggunakan lidah. Karena lebih gemuk, memek Iyuth terasa lebih sempit. Jadi kugoyangkan lidah ke kanan dan ke kiri, berusaha membuka lebar-lebar memek Iyuth. Bau keringat gadis remaja menyeruak. Tidak wangi tapi membuat sensasi tersendiri.

Lidah kugesekkan ke lubang kencingnya. Gara-gara aksiku itu, Iyuth menaikkan pantatnya dan melakukan gerakan maju mundur. Memeknya menyapu wajahku naik dan turun.

Gawat nih Iyuth...lebih agresif dibanding Deva. Maka aku menjilat apapun yang bisa kuraih dengan lidahku. Tanganku memainkan putingnya.

Santi menghentikan sejenak kulumannya. Sekarang, ia melirik ke arah bawah dan memegang testisku. Diremas-remasnya testisku itu. Wah, sungguh luar biasa enaknya.

"Sabar Sin...sebentar lagi kamu bakal bapak service", teriakku dalam hati.

Tak berapa lama, Iyuth menggelinjang hebat, seperti Deva yang hendak orgasme. Satu tanganku kuturunkan dan melingkari pinggangnya. Kubelah pantatnya menggunakan jari telunjukku sampai aku mendaratkan ujung kukuku di lubang pantatnya. Kutusuk lubang itu sambil membayangkan bagaimana guratan-guratan lubang pantat Iyuth.

Iyuth semakin menjadi-jadi. Dan, tak berapa lama kemudian, ia melenguh keras...

"Aahhhh....", seperti jeritan yang tertahan.

Tubuh montoknya berhenti bergoyang. Ia terdiam beberapa saat.

Setelah itu, ia menungging sejenak dan payudaranya jatuh di wajahku. Kucium puting payudara itu beberapa saat lamanya sampai Iyuth menarik badannya dan berjalan ke tepi Umbul, bersandar di sana.

Matanya masih terpejam, berusaha menikmati sensasi yang baru saja ia alami.

Santi, sekarang giliranmu.

AKu bangun dan Santi melepaskan tangannya dari area kemaluanku. Ia ikut berdiri dan tersenyum kecil. Tangannya menyilang di dadanya. Mungkin ia kedinginan. Aku cium dia dulu dan mengurai tangannya supaya aku bisa melihat payudara kecilnya.

Kucium payudara itu kanan dan kiri dengan liar. Santi terperanjat.

Gadis paling manis ini langsung menaikkan kakinya setengah, lututnya menempel pinggangku.

Kucegah lutut itu agar tidak jatuh ke bawah dengan menggenggamnya erat-erat. Lidahku menjelajahi dada, turun ke perut, dan berhenti di pusar sejenak. Kugoda Santi dengan cara menghisap-hisap lubang pusarnya. Santi melenguh-lenguh.

Lalu, lidahku turun ke arah belahan vaginanya, melewati rambut kemaluannya yang sedang bertumbuh. Kujilat memek itu naik dan turun. Masuk dan keluar. Berkali-kali.

Santi mengaduh...

"Aduh...duh.duh.duh....hmmmm.. .."

Setelah puas, kubiarkan kakinya turun.

Aku menyuruh ia membelakangiku. Kudorong pelan pundaknya ke bawah agar ia menungging. Lalu aku berlutut agar wajahku tepat segaris dengan pantatnya. Kedua tanganku meremas belahan pantatnya, kanan dan kiri. Dan dengan menggunakan dua jempolku, kubelah pantat itu.

Lubang pantatnya merekah. Guratan-guratan otot menutup lubang itu rapat-rapat.

Karena gemas, aku jilat-jilat kecil lubang pantat itu. Santi menggelinjang kecil setiap kali lidahku mendarat di lubang pantatnya. Sensasinya luar biasa bisa menciumi pantat Santi yang paling montok dibanding kedua anak yang lain. Otot lubangnya kerap berdenyut-denyut,

membalas rasa nikmat yang dirasakannya.

Lantas, aku berdiri dan memasukkan penisku ke belahan pantatnya. Tangan kiriku meremas payudara kiri Santi dan tangan kananku menyusup ke area kemaluannya. Rambut-rambut tipis yang menghiasi area pribadi Santi, menuntunku untuk menemukan lubang kenikmatan gadis ini.

Kugesekkan penisku makin cepat. Santi merintih-rintih. Punggungku kutekuk ke depan dan kucium leher gadis manis ini. Lubang kemaluan Santi sudah mulai basah dan berlendir. Jadi, aku lebih bersemangat memainkan jarinya. Pantatnya menjepit penisku erat-erat.

"Uhhh...Oh...", desisku pelan.

Santi tak mau kalah, "ahhhhhhh....ahhhhhhh....hmmmf fpphhh..."

Iyuth dan Deva mengamati kami dengan serius. Wajah lelah mereka masih terlihat tapi mereka tetap antusias menatapku yang sedang sibuk melayani Santi.

Walaupun dikuasai rasa enak yang tak tertahankan, aku tetap ingat satu hal. Aku tak mau memasukkan penisku ke lubang vagina mereka. Masa depan mereka masih panjang dan aku tak mau merusaknya. Biarkan mereka menikah dan membiarkan darah yang keluar dari lubang kemaluannya terjadi karena ditusuk oleh penis-penis pria yang menjadi pilihan hidup mereka sendiri.

Setelah puas memainkan pantatnya, kuputar badan Santi. Kusandarkan ke batu dan pangkal pahanya kuangkat tinggi. Lubang memeknya sudah merekah dan itu memancingku untuk menjilati bagian ini lagi. Kujilati hebat memek Santi. Santi yang mengangkang tampak pasrah. Ia memutar kepalanya berkali-kali. Kadang-kadang menatapku sambil terus-terusan menggigit lidahnya dan melipat bibir bawahnya.

Vagina Santi ranum. Bibir vaginanya berbintik-bintik kecil, dan semakin ke dalam, warnanya semakin memerah. Aku mendaratkan lidahku dari lubang kencingnya, ke arah lubang kemaluannya. Tarian lidahku ini membuatnya semakin menggelinjang.

Tiba-tiba, satu tangan Santi mendorong kepalaku.

AKibatnya, lidahku semakin menusuk lebih ke dalam. Kali ini Santi ikut menggerakkan pantatnya naik dan turun. Ia begitu menikmati irama permainanku. Semakin lama semakin kencang, dan akhirnya, sama seperti dua gadis lainnya, ia berhenti sejenak dan otot-otot

tubuhnya mengeras. Rambutku pun dijambaknya erat-erat.

"Ahhhhhhhh....", desahnya panjang.
"uuuhhhhh....", ia menghembuskan nafas setelah menahannya beberapa detik.

Lalu, ia terkulai dan perlahan-lahan menurunkan kakinya yang mengangkang itu.

Tapi permainan belum selesai. Kudorong pundak Santi ke bawah dan setelah penisku berada tepat di wajahnya, kudorong penis itu ke mulutnya lagi. Santi, yang masih tersengal, menyanggupi permintaanku.

Ia mengulum lagi penis itu. Kali ini, aku menggerakkan penisku seperti jika aku melakukan penetrasi di lubang vagina.

"Aaaahhhh...", desahku tiada henti. Gigi-gigi Santi mulai menggigiti penisku. Berkali-kali, ia mencabut penisku dari mulutnya dan memasukkannya lagi. Menambah kesan geli plus nikmat yang tiada tara.

Tak berapa lama, penisku menegang dan memanas.

"Santiii...", ucapku lirih. "Enakkk...", kataku bermanja.

Santi semakin semangat menjerumuskan penisku dalam-dalam. Aku tahu sebentar lagi spermaku bakal memancar keluar, tapi kucegah, kutahan sekuat tenaga.

Kulambaikan tanganku ke arah Iyuth dan Deva agar mereka merapat ke tempat kami berdua sedang menggelinjang nikmat. Mereka berdua tahu maksudku. Deva dan Iyuth berdiri di kanan kiriku sambil mengamati penisku yang timbul tenggelam di balik bibir mengkilap Santi.

Mereka berinisiatif memainkan putingku. Satu anak memainkan satu putingku. Sepertinya, mereka menyemangatiku...

Aku semakin menggelinjang dan ahhhhh....aku mendesah panjang...

"hhmmmmpphhffff...", nafasku tertahan. Jantungku berdetak kencang.

Kepala penisku merasakan semburan hebat. Kutarik penisku dan kubiarkan spermaku yang putih kental melenting ke sana kemari tanpa arah, menempel di wajah Santi yang imut.
Pipi Santi yang tembem menjadi begitu lucu karena tercecer tumpahan sperma yang putih dan kental. Ia seperti bayi yang wajahnya tercurah susu yang tumpah dari botolnya.

Santi memandang ke arahku yang masih mengatur nafas sambil tersenyum. Ia menjentikkan jari telunjuknya. Sepertinya, ia merasa puas karena berhasil membuatku klimaks.

Sedikit sperma masih ada di bibirnya, meleleh seperti susu putih. Ia memainkan ekspresi imutnya dan berdiri pelan-pelan. Kucium bibirnya untuk membersihkan sperma yang menempel di situ. Gara-gara keenakan, aku tak sadar kalau beberapa milidetik pertama orgasme, spermaku masuk ke mulut gadis manis ini.

Dari sela gigi-giginya, aku masih melihat lendir itu bermain-main di lidahnya. Ia mengatupkan bibirnya dan telunjuknya menahan bibir itu. Sepertinya, ia sedang menelan.

"Hhuuuhhfff Santi...kamu benar-benar sungguh istimewa."

Kusapukan tanganku ke rambutnya yang basah dan berantakan, serta kucium keningnya.

Sisa-sisa sperma masih menetes dari ujung penis, menarik perhatian Iyuth dan Deva. Tampak mereka ingin menangkap tetesan itu, tapi ragu-ragu. Mungkin mereka geli.

Mereka memandang penisku beberapa saat lamanya dengan penuh rasa kagum.

Puas.

Aku menciumi mereka satu demi satu.

Aku bersandar lemas di dinding batu. Membiarkan rasa nikmat itu menjalar dan hilang perlahan-lahan.

Mereka bertiga membersihkan diri. Aku cuma mengamati dengan asyik. Pada satu titik, aku berpikir bahwa bidadari yang dimaksud Bu Irda adalah anak-anak gadis yang bertelanjang bulat di Umbul itu...bukan bidadari mistis seperti yang dipercaya orang-orang.


Iyuth mengeramasi rambutnya menggunakan shampoo yang kubawa dari rumah. Sesekali, ia menceburkan diri, mencemari umbul dengan busa shampoo yang melimpah ruah. Santi menggosok badannya dengan busa yang telah kusiapkan. Sabun cairnya membanjiri badannya yang bugil. Sesekali, aku menelan ludah ketika busa itu menggosok dan menyelip ke sela-sela pantatnya yang montok.

Kan kusimpan busa itu untuk kenang-kenangan, janjiku.

Deva menggosok lembut kemaluannya. Ia harus lebih memperhatikan area pribadinya itu karena bulunya tumbuh lebat. Mereka sudah tidak bercanda lagi satu dengan lainnya. Semuanya sibuk mengurusi diri. Mungkin karena sudah terlalu lelah.

Mereka hanya mengoper sabun dan shampoo sambil tertawa-tawa.

Hari sudah semakin gelap. Aku mentas, dan kubagikan baju-baju coklat itu kepada mereka satu demi satu. Tubuh-tubuh telanjang itu mentas dari air, saling bergandengan, menyisakan bulir-bulir air, seperti embun yang membasahi daun.

Ada handuk kecil yang kubawa. Setelah kutawarkan, mereka saling menggosok satu dengan lain menggunakan handuk itu satu demi satu bergiliran.

Kami pun berpakaian dan aku melihat mereka sudah tertutup rapi. Anggun seperti semula.

Tak ada lagi bayangan gadis-gadis yang kikuk dan ceria dalam ketelanjangan. Semua kembali seperti semula. Anggun dan formal.

Aku mengajak mereka pulang menyusuri jalan yang tadi telah kami tempuh bersama.

Di jalan, kami berbincang biasa. Entah masalah pelajaran, sekolah, atau keseharian mereka. Seperti terasa lebih formal dibanding saat pertama kali kami bersama siang tadi.

Di depan rumahku, kami berpisah. Wajah mereka lelah, tapi tetap genit dan imut.

"Udah ya pak...besok ketemu lagi di sekolah", pamit Deva.

"Pak, jangan lupa ya...isi pulsaku", todong Iyuth.
"Tapi bapak minta nomormu dulu ya...", jawabku usil.
"Nggak mau...", kata Iyuth sambil melengos...

"hahaha...iya deh...bapak belikan nanti. Kamu kan muridku yang paling usil", balasku.

"San...", kataku pada gadis yang paling imut diantara mereka bertiga.
Tanganku mendarat di pundaknya.

Santi cuma tersenyum manis. Matanya menciut tipis dibayang-bayangi alisnya yang tebal.

Pelan, kuangkat tanganku dari pundaknya dan mencubit pipinya yang tembem.

Ia tidak bicara. Hanya tersenyum dan melambaikan tangan. Mereka membalikkan badan dan berjalan pulang ke arah jalan utama. Kadang-kadang, Santi masih menengok ke belakang. Iyuth tampak cuek dengan ponselnya. Deva, ia seperti tak pernah mengalami apapun.

Mereka bertiga pergi di kegelapan sore. Tepat di tanjakan, mereka berbelok dan menghilang dari pandangan.

----MALAM ITU------------

Hmmm.

Malam sudah tiba dan aku sedang menikmati kopi hangat.

Teras begitu sejuk sehingga aku berbaring di kursi panjang. Di tanganku sudah ada surat berkop resmi.

Aku membaca ulang SK yang dikirim dari kantor dinas di kota. Di situ terbubuh tanggal kadaluarsa tugasku. Dulu aku berpikir ingin cepat-cepat mengakhiri magang di desa ini karena aku tak bisa hidup tanpa keriuhan kota dan kecanggihan teknologi.

Tapi, sembari berbaring di depan rumah menatap bintang-bintang, aku berubah pikiran.

Sepertinya aku ingin meminta waktu yang lebih lama lagi untuk tinggal di tempat ini.

Lebih lama lagi dan mengenal lebih banyak orang.

Gadis-gadis telanjang itu membayangi pikiranku.

Aku pun tersenyum simpul...mencium busa yang dipakai Sinta untuk membersihkan dirinya.

Wangi.

Sendirian, aku mengamati susunan rasi bintang yang menyerupai kemolekan gadis-gadis yang aku temui hari ini.

{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment